Rahman Batubara, Ketika Hiburan Rakyat Tergusur Standar "Karisma" Festival
Gelaran Batubara Bertanjak tanpa Rahman Batubara

Panggung megah Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid VII 2026 di Istana Niat Lima Laras baru saja usai. Riuh rendah tepuk tangan untuk penyanyi-penyanyi jebolan ajang pencarian bakat nasional seperti Albi dan Hafiz DA masih menyisakan gema. Namun, di balik lampu panggung yang gemerlap, jagat media sosial justru sibuk membicarakan satu nama yang absen, ÿa.. Rahman Batubara!.
Bagi pengguna Facebook dan TikTok di Sumatera Utara, sosok Rahman Batubara adalah fenomena. Dengan gitar di tangan dan gaya bernyanyi interaktif ala Bollywood, ia sukses mencuri hati emak-emak dan menjadi magnet massa di setiap acara panggung. Namun, mengapa ikon lokal yang viral ini justru "ditepikan" dari pesta rakyat di daerahnya sendiri?
Absennya Rahman memicu polemik hangat di media sosial. Sebagian netizen menuding ada sentimen pribadi atau miskomunikasi di balik layar. Namun jika kita melihatnya secara lebih jernih, fenomena ini adalah potret nyata dari benturan estetika antara seni populer akar rumput (grassroots) dan standarisasi formal sebuah festival nasional.
Tahun ini, Batu Bara Bertanjak resmi naik kelas menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf RI. Masuknya festival ini ke kalender nasional tentu menuntut standarisasi kurasi yang ketat. Panitia dituntut menampilkan marwah tradisi Melayu baku dan seni tari kreasi yang formal. Di titik inilah, konsep hiburan interaktif Bollywood ala Rahman dinilai tidak selaras dengan "pakem" kurasi yang diinginkan penyelenggara.
Tentu, panitia memiliki hak penuh atas kurasi tersebut. Namun yang patut disayangkan adalah pengabaian terhadap fakta bahwa sebuah festival kebudayaan daerah sejatinya adalah milik rakyat. Rahman Batubara, dengan segala kesederhanaan dan keunikannya, adalah representasi dari apa yang disukai oleh masyarakat lokal saat ini. Menafikan kehadirannya sama saja dengan menjauhkan festival dari denyut nadi audiens utamanya.
Polemik ini memberikan pelajaran berharga untuk penyelenggaraan event kebudayaan di masa depan. Kita tidak bisa terus-menerus memilah kesenian dalam kotak kaku: mana yang "tinggi dan bernilai budaya" dan mana yang "rendah sekadar hiburan".
Penyelenggara festival kebudayaan ke depan harus lebih adaptif. Mengapa tidak menyediakan satu sesi khusus, misalnya Panggung Ekspresi Kreatif Lokal, yang mewadahi para seniman viral akar rumput? Dengan begitu, misi pelestarian budaya formal tetap tercapai melalui kurasi utama, sementara ruang bagi hiburan rakyat yang organik tetap mendapat tempatnya terhormat.
Batu Bara Bertanjak harus tetap bertanjak—bukan hanya karena standar nasional yang dipenuhi, melainkan karena seluruh seniman lokalnya, dari yang bernyanyi lagu Melayu baku hingga yang berdendang ala Bollywood, merasa ikut memiliki panggung.
Hak Jawab & Tanggung Jawab Pemberitaan
Apabila terdapat kekeliruan atau ketidaktepatan dalam pemberitaan di atas, pihak berkepentingan berhak menyampaikan Hak Jawab atau Hak Koreksi sesuai UU Pers No. 40/1999 dan Pedoman Media Siber melalui Kontak Redaksi.
